AHLAN WASAHLAN BIKHUDURIKUM
ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUHU

Menu horizontal

Selasa, 18 Januari 2011

Rahasia Chapter 2


“Kring.....kring.....kring “
Suara hape jadul itu seperti tak lelahnya berbunyi. Hampir sepuluh detik sekali dia mengabarkan masuknya new message. Pesan itu berisi persahabatan seorang kristiani dengan seorang santri. Semuanya berawal dari sebuah kekaguman. Ya hanya kekaguman......
Ironis memang, jika mereka begitu kagum terhadap  Madrasah Aliyah swasta yang kala itu bisa menyainginya SMA-SMA Favorit dalam event  LCT Matematika di Universitas Siliwangi.
“What’s Ur name ?”
“My name is Reynaldo Tamberra, n’ U ?”
“My name is Artha.”


Perkenalan pertama penuh dengan canda tawa tapi tetap memegang prinsip JA-IM. Semakin lama mereka begitu akrab melalui hape saja tanpa kenal wajah satu sama lain. Jika satu SMS saja tidak dibalas pasti dampaknya tidak mengenakkan. Jaringan yang sering off merupakan penghambat komunikasi itu. Namun mereka berusaha untuk saling memahami. Sampai akhirnya pertanyaan tentang lintas agama muncul darinya.
“Apa yang dimaksud dengan shalat duha ?” celetuknya.
“Shalat yang dilaksanakan pada saat matahari berada sekitar 45 derajat di atas permukaan bumi yang dimaksudkan untuk memohon dilancarkan  rezeki oleh Allah swt.”
Jawaban yang tak seberapa namun cukup untuk orang awwam seperti dirinya. Artha sendiri tak mau kalah bertanya.
“ Apa benar pada saat Natal Santa Claus akan datang dan memberi hadiah ?” 
Pertanyaan yang aneh dan sebenarnya tak penting ditanyakan...
“ Itu hanya dongeng sebelum tidur saja agar anak-anak cepat tidur dan bermimpi indah.”
Artha menyadari kehidupannya di asrama bukanlah untuk menjadi seorang pembangkang, namun membawa hape ke asrama adalah salah satu bukti pembangkangannya pada salah satu peraturan pesantren. Sebenarnya hatinya merasa tidak tentram, namun jika dia saja merasa tidak tentram, apalagi belasan teman lainnya yang sama-sama menjadi pembangkang, ya mereka memang pembangkang.
Rey, ya Artha memanggilnya Rey. Seorang kristiani yang terlihat aneh karena begitu penasaran terhadap Al-Islam. Lebih aneh lagi karena sudah sekian lama Allah tidak pernah mempertemukan mereka. Jika satu rencana disusun untuk pertemuan maka pasti kendala selalu ada menghampirinya. Entahlah........
            cukup lama mereka saling bertukar pemikiran. pemikiran-pemikiran remaja yang masih penuh dengan guyonan . dari sanalah satu persatu teman seimannya diperkenalkan pada Artha. Lia, Willy, Victor H, Mike, Trista, Mischell, Ezio, dll. Hatinya selalu tak sabar dengan bayang-bayang kata "seandainya". ya.... seandainya mereka muslim. tapi keyakinan Artha berkata, secara perlahan mereka akan memeluk agama yang sama dengannya. perlahan tapi insyaallah pasti.

Cari Blog Ini