AHLAN WASAHLAN BIKHUDURIKUM
ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUHU

Menu horizontal

Senin, 17 Januari 2011

Rahasia Chapter 1


           Rumah itu begitu kumuh dan terlihat tak terurus lagi. Dinding bilik bambunya sudah sangat lapuk. Pagarnya dililiti oleh tanaman liar merambat. Sulur-sulurnya begitu kuat menempel pada pagar bambu itu. Di depan rumahnya ada ayunan tua yang tak bisa digunakan lagi. ayunan tua itu menggantung pada pohon beringin yang sekarang sudah begitu banyak akar isapnya. Satu-satunya jalan setapak yang menghubungkan jalan raya ke rumah itu sudah ditumbuhi ilalang setinggi paha orang dewasa. Bunyi  sorakan burung silih berganti mewarnai pagi yang cerah itu. Bajing dan hewan melata lainnya juga ikut meramaikan suasana kala itu. Sorotan mentari yang menembus celah-celah antar pepohonan terlihat jelas sebagai serat-serat cahaya yang menembus koloid udara.



            Seorang nenek paruh baya berjalan ditemani tongkat bambunya  menyiangi  tumbuhan ilalang yang menghalangi jalan. Dipandanginya suasana  alam yang begitu cepat berubah sama halnya seperti dirinya yang tak terasa sudah 60 tahunan. wajah keriputnya adalah bukti keganasan hidup yang menguras umurnya sedikit demi sedikit. kini mata rabunnya tertuju pada sebuah bangunan tua itu. bangunan yang menjadi tempat paling bersejarah bagi dirinya. saat keperawanannya hilang kali pertama. air matanya meleleh perlahan namun cepat-cepat air mata itu disapu dengan tangannya. bukan malu pada seseorang tapi malu pada dirinya sendiri yang sudah melakukan hal yang melanggar aturan Tuhan. padahal kurang baik apa Tuhan terhadap dirinya.
            Suara kresek-kresek dedaunan yang terinjak membuyarkan lamunannya. sekarang matanya tertuju pada arah suara itu. terdengarlah teriakan seorang anak usia enam tahunan didampingi kedua orang tuannya. “Nenek !” teriak bocah itu. senyum nenek itu merekah dan seperti yang dipaksakan. Rahasia mudanya tak boleh ada seorang pun yang mengetahuinya. “Nek, ayo kita pulang,” bujuk anak peremuannya yang sekarang sudah menjadi pendamping seorang saudagar yang kaya raya. kekayaan itu sempurna dengan dikaruniainya seorang anak lelaki yang lucu. hatinya masih perih dan tak menyangka bahwa anak haramnya akan mendapatkan kebahagiaan yang sempurna itu. bagaimana seandainya anak semata wayangnya megetahui rahasia kelam yang dipendamnya selama puluhan tahun itu. saat anaknya menanyakan tentang arti sejarah rumah  tua yang sering dikunjunginya, nenek itu tak sedikit pun membuka mulutnya untuk bicara. “Biarlah peristiwa kelam itu hanya aku dan Tuhan yang tahu hingga pertanggungjawabanku di akhirat kelak,” bisiknya dalam hati.

Cari Blog Ini