AHLAN WASAHLAN BIKHUDURIKUM
ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUHU

Menu horizontal

Jumat, 11 November 2011

THE MIDDLE : Sebuah Pengakuat Bangsa Indonesia Part 2

Oleh : Artha Wijaya      

               Aku memiliki postur tubuh yang tidak terlalu besar meskipun Aku sudah kelas tiga SMA sekarang. Rambut yang sedikit ikal. Dan memiliki kelemahan pandangan sehingga terlahir sebagai manusia bermata empat. Aku begitu bersyukur atas anugerah Tuhan padaku. Aku bisa mempertaruhkan nama Bangsa Indonesia ini di kancah Internasional dalam sebuah Olimpiade Pendidikan Internasional satu tahun yang lalu. Aku begitu sadar bahwa sebenarnya anak-anak bangsa ini begitu cerdas dalam masalah teori. Buktinya prestasi-prestasi kita tidak kurang memuaskannya dalam  berbagai Olimpiade Internasional. Namun pendidikan kita masih saja belum menemukan arahan yang memuaskan. Berbagai jenis kurikulum sudah diterapkan. Akhirnya para pelajar hanya mengikuti aturan main petinggi-petinggi mereka tanpa mengetahui urgensi pendidikan yang sebenarnya. Imbasnya, pengangguran kaum akademika masih saja menempati posisi yang memalukan.I
“Surya,” panggil ibuku.
“Iya bu, ada apa”
“Ini ada surat dari kepala sekolahmu”
Aku yang ketika itu berada di ruang tengah langsung berlari dan mengambil surat itu. Aku langsung membukanya. Dengan tangan sedikit bergetar Aku baca perlahan. Isinya adalah sebuah tawaran beasiswa pendidikan di sebuah universitas ternama di Jepang, University of Tokyo (UT). Disana terlampir semua biaya pendidikan dan biaya hidup akan ditanggung pemerintah Indonesia sampai lulus. Aku lemas, bahagia, dan bercampur sedih. Haruskah Aku meninggalkan bumi pertiwi ini untuk melanjutkan pencarian ilmu ? Masih rendahkah martabat perguruan tinggi di negeri ini ? Selain itu, masih banyak teman-teman sebayaku terutama kakak iparku yang tak seberuntung Aku. Lalu bagaiman pula perasaan ibu tentang hal ini. Saat ini Aku merasa begitu beruntung sekaligus bimbang.
          “Sudah dibaca belum. Apa isinya ?” sahut Ibuku yang sedikit penasaran.
          “I..ini bu, Surya juga gak ngerti”
Aku harus berpura-pura tidak mengerti agar mendapat pendapat pertama ibuku tentang ini semua. Tidak lama setelah itu ibu menghampiriku dan membaca surat itu.
          “Bagaiman pendapat ibu tentang ini semua,” sahutku mengawali pembicaraan. Ibu hanya diam. Matanya berkaca-kaca dan mulutnya tak bisa mengucapkan kata-kata. Aku menyaksikan garis-garis wajahnya  yang penuh kelelahan. Kami sangat dekat, lebih dekat lagi. Ibu langsung merangkulku dan mengelus-elus kepalaku.
          “Ibu tau cita-citamu setinggi langit untuk negeri kita ini. Kau terlahir di belahan bumi ini kan ? Sekarang kau akan dididik oleh bangsa tetangga nan maju disana. Kau dibiayai pemerintah negeri ini atas kebanggaannya padamu. Semua itu teramat membuat hati ibu bangga padamu. Namun satu hal nak, kamu anak ibu satu-satunya. Rasa sayang seorang ibumu ini takkan pernah tergantikan oleh apapun padamu. Kamu mengerti kan maksud ibu ? “
Aku hanya terdiam, menunduk, dan benar-benar tertusuk oleh kata-kata ibu. Pikiranku  masih mengingat satu hal yang menjadi kenyataan pada hidup kami. Kemiskinan, ya kami sangat mengakui kami termasuk salah satu dari rakyat miskin di negeri ini. Aku hanya mengandalkan uluran tangan pemerintah untuk bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Tapi adakah kesempatan itu untukku melanjutkan di dalam negeri saja ?
Aku beranikan untuk tegar. Sedikit demi sedikit Aku angkat kepalaku meskipun sebenarnya Aku masih bingung. Memang sudah berulang kali ibu mengungkapkan ketidaksetujuannya setiap Aku bicara tentang pelajar-pelajar Indonesia yang melanjutkan kuliah ke luar negeri. Banyak alasan yang ibu katakan. Permasalahan agama yang liberalis lah, akhlak yang jauh dari tuntunan rosul lah, gaya hidup yang glamouris lah, dan lain sebagainya. Bahkan, Ibu tidak pernah mengakui kehebatan ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Ya, Aku tahu ibu hanya lulusan sekolah dasar.
          “Ibu, tiada kebahagiaan terbesar bagiku selain melihat ibu bahagia. Aku ikhlas melepas semuanya asalkan ibu bahagia.“
Ibu merangkulku semakin erat. Sampai akhirnya air mataku tumpah juga karena terharu. I
          Seperti biasa teman-temanku selalu mengajakku bermain menjelang mentari terbenam. Menatap puncak Gunung Galunggung yang sangat indah. Berlarian di jalan setapak yang kanan kirinya masih terdapat sawah dan kolam ikan. Konon katanya, dulu yang meletus bukan Gunung Galunggung sesungguhnya melainkan masih anaknya. Artinya, Gunung Galunggung yang sesungguhnya masih aktif. Ah biar saja apapun yang terjadi toh akhirnya kita punya jalan masing-masing untuk hidup.
          Setelah pamandangan berubah menjadi kekuning-kuningan, seperti biasanya Kami berkumpul di sebuah saung sawah untuk saling bertukar pengetahuan yang Kami dapat selama seminggu kebelakang. Kami berjumlah lima orang dan masing-masing memiliki cita-cita yang berbeda. Aku ingin menjadi ilmuwan Indonesia, Irwan ingin menjadi aktivis pemerintahan, Hendar ingin menjadi pengusaha, Eman, anak dari saudara ibuku ingin menjadi guru, dan Rendi ingin melanjutkan kuliah ke Mesir lalu mendirikan yayasan pendidikan islam di tanah kelahirannya. Aku selalu yang harus memulai pembicaraan.
          “Taukah anda.” Dengan nada seperti dosen yang jenius dihadapan mahasiswanya. Lalu Aku melanjutkannya, “ Seorang  penulis Amerika yang berasal dari China, Lim How pernah berkata, ‘No one is born to lose. Everyone is born to win. And the biggest difference that separates the one from the other is the willingness to learn, to change, and to grow.’”
          “Kata-kata yang indah Di,” sahut Eman. Aku biasakan memanggilnya Aa. Dan Dia terbiasa pula memanggilku Adi. Lalu dia memanfaatkan kesempatannya untuk berbicara.
          “Aku akan mengutip kata-kata Aribowo Prijosaksono dalam bukunya yang berjudul Lebih dari Sekedar The Secret, Try Before You Die, ‘Inilah tujuh kekuatan utama manusia, The Power of Dreams, The Power of Focus, The Power of Self Discipline, The Power of Survival, The Power of Learning, The Power of Mind, and The Power of Love.’” Kami hening sejenak.
          “Paham kan maksudku,” lanjutnya dengan gaya seorang guru high level. Mungkin Dia kurang menyadari kalau nilai-nilai rapornya tidak terlalu baik. Tapi Aku sangat bangga padanya. Satu persatu dari mereka mencurahkan kata-kata indah yang lainnya sesuai penemuannya masing-masing.  Adzan maghrib menggema dan memanggil Kami untuk pulang. Sepanjang jalan Kami tak jarang mendengar candaan orang tua di kampung Kami yang menyatakan ketidaksetujuannya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.
          “Udah deh buat apa sekolah tinggi-tinggi kalo akhirnya nganggur juga.  Mending ke kota aja sana cari duit.” Kami hanya bisa tersenyum untuk sekedar menghormati. Kami pulang ke rumah masing-masing dan menantikan mentari esok dimana Kami harus mengambil ijazah ke sekolah dan mendengar pengumuman hasil tes ke perguruan tinggi yang diimpikan masing-masing.I
          Jarak sekolah dengan kampung Kami sekitar satu kilometer. Kami harus berangkat pukul 6.00 dengan kecepatan sekitar 0,2 m/s supaya bisa sampai pukul 07.30 di sekolah. Itu sudah termasuk memperhitungkan candaan Kami ketika di jalan. Begitulah setiap hari Kami ke sekolah. Tapi yang jelas mungkin sekarang adalah hari-hari terakhir Kami seperti itu dan akan sangat Kami rindukan di kemudian hari. Aku, Hendar, dan Irwan dinyatakan lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri di Indonesia. Rendi masih menunggu pengumuman hasil seleksi dari Departemen Agama RI. Aku dan Hendar diterima di Institut Pertanian Bogor dengan beasiswa penuh dari pemerintah. Irwan diterima di Universitas Padjadjaran. Tapi Eman, kakak iparku sendiri masih dalam masalah. Ayahnya tetap tidak setuju Dia melanjutkan ke perguruan tinggi. Aku sakit sebenarnya setiap ibunya datang menghampiri ibuku untuk meminta solusi. Disisi lain, Aku terus berusaha untuk mencarikan perguruan tinggi yang bisa meyakinkan ayahnya. Lagi-lagi ini perihal biaya. Aku menyadari bahwa Dia mungkin tidak sepintar yang semua orang harapkan, tapi Aku ingin dia mewujudkan mimpinya yang selalu dia pendam.
“Adi, Aku bingung menghadapi ayahku,” ucapnya. Aku tetap memanggilnya Aa dan Dia juga selalu memanggilku Adi.
Aku berdiam sejenak dan tetap berusaha membuatnya semangat.
“Bagaimana  kalau Aa kuliah di daerah sini aja, mungkin biayanya akan sedikit lebih murah dari pada di luar sana.”
“Tapi apa kamu bisa meyakinkan Ayahku,” jawabnya pelan.
Aku tak berani menjawab iya sebenarnya. Tapi Aku akan tetap mencoba.
“Aku akan mencoba bicara baik-baik dengan ayahmu.”
“Mungkinkah ?” lanjutnya.
“Aku hanya bisa berusaha. Apapun hasilnya itu urusan nanti.”
Aku kembali ke rumahku. Aku sering bermain kerumahnya, terutama disaat ayahnya tidak ada di rumah.I
          Sekarang Aku berada diantara sekumpulan suara-suara lantang di jalanan. Bergabung dengan orang-orang terpelajar dari seantero bangsa ini. berbagai spanduk dan jinggel-jinggel berisi aspirasi Kami. Ungkapan  ketidaksetujuan terhadap kebijakan pemerintah dalam hal sistem pendidikan yang tentunya merasa perlu perbaikan. Membela para abdi negara yang sedikit perhatian, para ilmuwan yang sulit berkembang karena anggaran, anak-anak yang putus sekolah karena biaya. Kami  adalah agent of change, social control, and iron stock. Kami yang berjuang diatas ketidaktahuan masyarakat Indonesia.
Kami bukan pembangkang yang tidak tahu aturan. Kami bukan seonggok jasad tanpa nyawa. Tapi Kami adalah segolongan pemuda yang diberi kesempatan melanjutkan ke perguruan tinggi sampai akhirnya Kami mengerti segalanya. Ya, baru saat ini saja Kami mengerti, tidak saat Kami masih berseragam putih abu dulu. Polisi bukan musuh Kami. Hindarkan senjata-senjata inventaris negara itu dari wajah-wajah Kami. Kami hanya ingin menyuarakan aspirasi Kami. Mana orang-orang terhormat yang seharusnya mendengar teriakan suara Kami.
          Sejenak Aku bersama empat temanku mundur ke belakang lalu duduk di atas trotoar di pinggir jalan. Aku termenung melihat realita negara demokrasi ini. Pikiranku juga melayang pada nasib anak jalanan yang harus putus sekolah karena keterbatasan. Nasib anak-anak yang harus ngamen di setiap angkutan umum pada jam-jam sekolah. Mana sekolah gratis yang dijanjikan sebenarnya kalau pada kenyataannya masih ada sekolah-sekolah yang memungut biaya ini dan itu. Buku-buku pendidikan yang masih mahal. Perpustakaan sekolah yang masih amat terbatas. Fasilitas sekolah yang memprihatinkan. Belum lagi masalah moral anak bangsa yang semakin hancur. Pelecehan seksual tidak pandang usia bahkan guru yang seharusnya menjadi teladan malah jadi contoh kebejatan akhlak. Guru-guru yang seakan tidak punya pedoman dalam mendidik siswanya. Ada yang keras karena latar belakangnya dan ada yang terlalu baik dengan alasan ketidaknyamanan diperlakukan keras. Sangat ironis bukan. Negara ini benar-benar sedang dalam kegalauan, pertengahan diantara rusak dan jaya.
          Kami pulang dan Kami merasa puas dengan segala tindakan Kami. Kami berharap para pemegang amanah di atas sana mau mendengar dan melihat realita pendidikan di bumi tercinta saat ini.I

Cari Blog Ini