AHLAN WASAHLAN BIKHUDURIKUM
ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUHU

Menu horizontal

Jumat, 11 November 2011

THE MIDDLE : Sebuah Pengakuat Bangsa Indonesia Part 1

Oleh : Artha Wijaya

              Sinar mentari itu telah membuka retina mata Kami, sekelompok anak-anak kecil yang rindu akan kejayaan. Inilah desa kebanggaan Kami. Desa yang Kami pandang aman dan damai. Terletak di belahan bumi yang takkan bisa disaingi potensinya oleh belahan dunia lain manapun. Terjamin oleh lintasan garis khatilistiwa. Terdidik oleh angin muson timur dan angin muson barat. Terdiri dari berbagai suku, ras, agama, bahasa, budaya dan lain sebagainya. Kami sangat kaya. Dunia seakan berada dalam genggaman Kami. Genggaman yang sebenarnya masih gemetar. Berada diantara bisa atau tidak untuk menggenggamnya. Kami tersimpuh, lemas dan akhirnya jatuh di atas tumpukan kerikil. Kemudian ketua kampung, tetangga, dan guru-guru membangunkan Kami lalu menopang Kami yang berlumuran darah. Sambil menyapu sisa-sisa air mata, salah satu dari Kami bertanya, “Wahai orang-orang yang Kami hormati, mampukah kita berjaya dengan kemampuan Kita ?” Tak seorangpun diantara mereka yang bisa menjawab. Lalu Kami berlari, kembali tertawa menuju mentari yang nyaris tenggelam. Kami lihat sungai-sungai masih menampakkan kedalamannya. Sawah-sawah masih memperlihatkan kecantikannya. Pepohonan masih ikhlas memberikan oksigen untuk bernafas. Sambil tersenyum Kami berkata, “Kita pasti bisa.”
                 Sekarang Kami  berjalan dalam remang-remang malam. Melewati perkampungan yang Kami banggakan. Menyibukkan diri memandangi kiri dan kanan. Kami kadang tertawa dan kadang menangis. Bukan melihat keindahan alam lagi, melainkan melihat para penghuninya yang mengkhawatirkan. Salah seorang lagi dari Kami berani membuka mulutnya seraya berkata, “Diriku hidup pada jaman yang aneh. Jaman dimana manusia cerdas dengan kelicikannya. Manusia alim hanya lahiriahnya. Ketimpangan sosial yang terabaikan. Keadilan yang diperjualbelikan. Pendidikan yang kurang terkontrol. Indonesia, kampungku yang berada dalam kebimbangan masa depan. Tak seorang pun yang bisa memprediksi secara benar masa depannya. Lebih jaya-kah, atau malah berada dalam ambang kehancuran.”
Kami hanya anak-anak kecil yang mempunyai sejuta harapan. Kami menyebut Indonesia ini adalah kampung. Kami tidak tahu seluas apa yang namanya kepulauan Indonesia saat itu. Sekali lagi kami hanya anak kecil. Meski pada kenyataannya, hidup  ini tak serumit jalan cerita  film-film sinetron, tak semesra penampilan aktor Drama Asia, dan se-solid penampilan artis Bollywood. Tapi satu hal lagi, hidup juga tidak sebrutal film-film Hollywood, sekejam film-film Thailand, dan se-optimis film-film anime. Jika dikalkulasikan, jumlah film-film pendidikan dan artis-artis teladan masih jauh dibawah film-film dan artis-artis tidak penting yang membolak-balikkan nafsu manusia. Dimana harga diri manusia sebagai makhluk yang terlahir sempurna untuk menjadi khalifah di muka bumi ini sebenarnya. Manusia terlahir dengan empat anugerah Tuhan bukan ? memiliki Kesadaran diri, memiliki imajinasi, memiliki suara hati, dan kehendak bebas. Setidaknya dengan empat anugerah tersebut manusia bisa menutun jalan hidupnya menuju kejayaan. Itulah pendidikan yang Kami dapatkan dari guru-guru Kami di sekolah.
           Aku adalah salah satu dari anak-anak kecil itu. Seorang  anak yang terlahir dari daerah yang sedikit memahami arti pendidikan. Sedikit memahami kebijakan pemerintah. Namun Kami bahagia karena Kami masih bisa hidup berdampingan. Saling tolong bantu. Dan bisa merasakan ketenangan dalam kelembutan ajaran sufi dalam menyatu dengan tuhan Kami, Allah.

Cari Blog Ini