AHLAN WASAHLAN BIKHUDURIKUM
ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUHU

Menu horizontal

Selasa, 17 Januari 2012

IPB di Urutan Ke-3 dari 10 Universitas Bintang Indonesia

Sebenarnya saya tidak terlalu fanatik dalam masalah peringkat universitas di Indonesia, tapi inilah hasil kerja keras mereka menilai. Maka kita patut menghargai penilaian mereka. Tapi bangga juga deh sebagai mahasiswa IPB, karena IPB mendapat bintang terbanyak di Internasionalisasinya. semoga benar-benar menjadi World Class University yang membanggakan.

Sumber ini saya dapatkan dari acara Metro 10 di MetroTV, tayang Selasa,20-09-2011, 21:12 WIB, yang mengulas 10 Universitas Bintang di Indonesia. Tayangan ini dibuat berdasarkan ratifikasi QS Stars Top University. QSStars is based on the key pillars of what makes a World Class University andconsidering additional factors that are often overlooked in university rankingsand other assessments. QS Stars Top University telah meratifikasi sejumlahuniversitas ternama di Indonesia dengan memberikan skor menggunakan simbolbintang. Point yang dinilai adalah penelitian, kepegawaian, pengajaran, infrastruktur,internasionalisasi, inovasi dan keadministrasian. Setiap point diratifikasiuntuk menentukan jumlah bintang agar layak menyandang predikat UniversitasPaling Top versi QS STARS "Rated for Excellence" 2011.
Inilah 10 Universitas Bintang di Indonesia tersebut:

1. Institut Teknologi Bandung.
2. Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya

3. Institut Pertanian Bogor.

4. Universitas Diponegoro Semarang.

5. Universitas Padjadjaran Bandung.

6. Universitas Jember.

7. Universitas Gunadarma Depok.
8. Universitas Katolik Parahyangan Bandung.
9. Universitas Brawijaya Malang.
10.Universitas Bina Nusantara Jakarta.


ITB mendapat skor bintang paling tinggi yakni 4*. ITB mendapat 5* pada point internasionalisasi dan teknologi engineering, 4* pada point infrastruktur daninovasi, 3* untuk penelitian, kepegawaian dan administrasi, 1* untuk pengajaran.

ITS mendapat 3*, dengan perolehan 5* pada pointinfrastruktur, inovasi, dan administrasi, 4* pada point kepegawaian, 3* untukpoint internasionalisasi, 2* untuk pengajaran, 1* untuk penelitian.

IPB memperoleh bintang terbanyak pada point internasionalisasi sebanyak 5*, dan masing-masing 4* pada poin infrastruktur dan inovasi, 3* untuk administrasi, masing-masing 2* untuk kepegawaian dan pengajaran, serta masing-masing 1* untuk pertanian dan penelitian

Undip unggul di infrasturktur dan administrasi dengan memperoleh 5*, 4* untuk point internasionalisasi, 3* untuk kepegawaian,dan masing-masing 1* untuk penelitian, pengajaran, dan inovasi.

Unpad mendapat 5* untuk point internasionalisasidan administrasi, 4* pada infrastruktur, 3* untuk kepegawaian, 2* untuk penelitian dan masing-masing 1* untuk pengajaran dan inovasi.

Unjem mendapat 5* pada point infrastruktur dan administrasi, masing-masing 3* untuk internasionalisasi dan kepegawaian, dan masing-masing 2* untuk pengajaran dan penelitian.

Gundar mendapat 5* pada administrasi, masing-masing 4* pada kepegawaian dan inovasi, 3* untuk infrastruktur, dan masing-masing 1* untuk inovasi dan pengajaran

Unpar secara keseluruhan mendapat predikatbintang dua, dengan point adminstrasi sebagai point yang mendulang 5*, 4* padainfrastruktur, masing-masing 3* untuk internasionalisasi dan kepegawaian, sertamasing-masing 1* pada poin pengajaran dan inovasi.

Unibraw mendapat dua bintang untuk Rated forExellence. Dengan penyebaraan masing-masing 4* untuk kepegawaian danadministrasi, masing-masing 3* untuk infrastruktur dan inovasi, 2* untuk penelitian, serta maing-masing 1* untuk pengajaran dan internasionalisasi.

original link: http://forum.kompas.com/sekolah-pendidikan/41847-10-universitas-bintang-di-indonesia-metro10-metrotv-selasa-20-09-2011-21-12-wib.html

         

Senin, 16 Januari 2012

My Silly Experience [ Next part ]

Ini menurut saya cukup gila, kejadian yang terjadi pada dua hari menjelang akhir Ujian Akhir Semester kemarin.
Pikiranku fokus pada Ujian besok, Ujian akan dimulai pada pukul 13.30, yaitu mata kuliah Pengetahuan Bahan Teknik. Dengan penuh kesadaran, saya tahu bahwa mata pelajaran ini bentuk hafalan semua. Sehingga perlu tempat yang bisa membuatku tenang untuk mengefektifkan proses belajar. Perpustakaan selalu menjadi tempat pilihan paling tepat menurut saya sampai sekarang.

Tanpa banyak pikir lagi saya berangkat ke perpustakaan pada tepat setelah shalat maghrib. Selama perjalanan, pikiran aneh tiba-tiba muncul ketika melewati sepanjang kantin "SAPTA", kantin yang sangat rame pada siang hari dan kini sepi tanpa ada seorang pun manusia. Kutatapi sekeliling yang hanya ada lapak macam-macam makanan.Segera ku buang pikiran seperti di film-film horor itu. "Sepanjang hidup Aku tak mau mengenalnya," pikirku.
"Ga ada, ga ada apa-apa kok," lanjutku dalam hati seraya menundukkan pandangan.

Setibanya di perpustakaan, sempat kuarahkan pandangan pada proyek pembangunan Perpustakaan baru di atas danau LSI itu. Kegiatan pembangunan yang tidak pernah terhenti walaupun malam hari ini, membuatku lagi-lagi berfikir tentang kata-kata dari berbagai sumber.
"Pembangunan suatu bangunan besar itu biasanya suka memakan korban sebagai tumbal."  kata-kata ini memang bukan hanya omongan belaka, saat pembangunan gedung Fakultas Ekonomi dan Manajemen yang diatas danau LSI dulu juga dikabarkan memakan korban. Menurut seorang peneliti, danau LSI memiliki suatu pohon merambat yang ganas. Pohon itu bisa meliliti siapa saja yang mendekatinya kemudian merenggut nyawa orang tersebut karena kekurangan Oksigen. Belum lagi cerita saat-saat pembangunan gedung Fakultas Kedokteran Hewan dulu. Seorang pekerja tiba-tiba terkena benturan sebuah kapak yang jatuh dari lantai atas bangunan. Seketika itu juga sang pekerja meninggal dunia.  

"Ah masa bodoh dengan itu semua". Terlalu kuno dengan itu semua.
Aku langsung masuk kedalam perpustakaan dan mengambil tempat duduk sayap kanan bagian tempat belajar bareng, layanan digital, dan tempat santai tontonan TV serta majalah dan koran. Aku belum lupa bahwa beberapa menit sebelumnya temanku minta dikirimkan penjelasan dari macam-macam sifat mekanik bahan teknik. Oke, Aku tinggalkan leptop yang sialnya ga bisa online. Berjalan beberapa meter untuk menggunakan layanan digital saja. Pukul 16.00 layanan facebook sudah bisa digunakan bebas di kampus. Aku buka dan kukirimkan catatan itu kepada temanku melalui wall -nya langsung.

Berselang beberapa detik, kulihat disamping kanan seorang Bapak-bapak juga sedang menggunakan internet. lalu beberapa temannya sedang menonton televisi sambil membaca koran yang sudah tersedia di sofa yang cukup empuk.

satu chat masuk, tapi bukan bahasa manusia. chat itu berisi link dari teman saya. Aku buka di new tab, disana ternyata sebuah tebak-tebakan dengan perintah temukan tiga perbedaan pada gambar dibawah ini. Oke, Aku cari-cari perbedaannya gak ketemu juga. sampai lensa kaca mataku hanya beberapa centimeter saja dari layar. Tiba-tiba.......

sreeeeeeeeeeeeeeeeeet.

Gambar setan merah muncul. Aku berteriak sejadi-jadinya. Badanku terpental ke belakang sambil terdengar cekikikan pengunjung perpustakaan lain yang sejak tadi berduan di belakangku. Mereka memang yang paling puas karena melihat langsung apa yang aku lihat dilayar yang belum aku close selama beberapa menit. Diikuti bisikan-bisikan para petugas perpustakaan di pojok samping kanan. Bapak-bapak yang sedang menonton televisi bertanya, "Ada apa" dan ku yakin pertanyaan itu biarlah bapak-bapak yang sejak tadi ada disampingku. Ternyata bapak itu malah jawab dengan kata-kata yang bikin aku sedikit merah. Memang formasi komputer itu melingkar, sehingga bapak disampingku belum sempat juga melihatnya.
"Melihat JABLAY kalii," celetusnya.

Dalam hati Aku berkata, "Hah, melihat Jablay pak, gak segitunya mungkin kalo liat jablay mah, hehe"
Langsung Aku tutup dan kembali ketempat dengan menundukkan kepala karena malu. Dengan sedikit kesal, kok orang yang dibelakangku gak berhenti tertawa. Sebenarnya Aku juga masih tertawa sih meski dengan rasa malu.

Daripada gak fokus lagi belajar, Aku putuskan untuk pindah saja ke Koridor Fateta. Memang sih perpustakaan sudah hampir mau tutup, sudah mendekati pukul 21.00. Aku berjalan melewati blok-blok yang masih becek karena hujan. Disana masih saja para pekerja bangunan melakukan aktivitasnya di ujung paling atas, bagian pengelasan komponen-komponen baja. Lebih tepatnya las listrik yang bisa membutakan mata manusia jika tidak menggunakan pengaman. Satu hal yang membuat saya bingung. saat praktikum pengelasan listrik, jujur saya tidak bisa melihat jelas objek yang akan dilas karena gelap. Tapi mereka sudah level atas mungkin meskipun malam hari.

Kupastikan bahwa di korfat masih ada orang. sreeet, tak kulihat ada manusia disana. berjalan meminggir, eh ternyata ada satu orang yang sedang  nge-net. Aku duduk terpisah dua meja darinya. Dia memakai baju warna merah dan saepertinya mahasiswa fateta tingkat tua, terlihat dari raut mukanya. Aku pastikan kakinya nempel di lantai. Oke, dia manusia.

Semakin larut dan hawanya semakin dingin. Orang satu-satunya yang bisa membuatku tidak takut beranjak pulang. "Aduh gimana ini, materi belum selesai Aku baca. Dia akan pulang, Aku juga harus sesegera mungkin bergegas," pikirku.
Alhamdulillah dari sebelah timur sana terlihat ada orang yang ngambil jam malam untuk ber-internet-ria. Aku senang dan kembali membaca. Ditambah lagi teman satu kelasku datang, namun entah apa yang Dia lakukan setelah kami saling menyapa. Nampaknya belajar juga.

Kulihat jam yang sudah menunjukkan pukul 23.00. Oke Aku harus pulang. Tidur dan melupakan semua kejadian di perpustakaan yang membuat heboh itu. Jujur, ini gila. teriakan gila. dan Muka gila. haha

Sepertinya harus hati-hati kalau dikirim link yang mencurigakan. Sekali lagi gak mau Aku membuka link yang aneh seperti itu. MENGERIKAN !!
See you

Jumat, 13 Januari 2012

PKMT yang Akhirnya Didanai Oleh Dikti

Siapa yang nggak senang saat PKM-nya didanai oleh DIKTI. Hal ini karena memang inilah bukti kreativitas mahasiswa yang mendapat apresiasi dari pemerintah Indonesia untuk direalisasikan menjadi sebuah karya anak negeri. 
Setelah menunggu sekitar dua bulan, akhirnya pengumuman ini keluar juga. Semuanya berawal dari ide yang mungkin bisa dibilang gila dan aneh. Tapi sebenarnya itulah nilai kreativitas kita untuk bisa membuat sesuatu yang bermanfaat. 
Alat yang saya rancang yaitu tentang alat pencetak opak singkong. Pada awalnya, desain dirancang dengan penambahan otomatisasi dengan sistem kontrol pembagi frekuensi. Kontrol yang digunakan akan menggerakan alat pencetak tanpa bantuan manusia (otomatis). 
Ide ini muncul karena keinginan yang cukup besar untuk membantu para pembuat opak singkong di daerah Tasikmalaya yang terbilang masih sangat manual. 
Dengan berkonsultasi dengan dosen yang mumpuni dibidangnya, dihasilkan berbagai pertimbangan tentang karakteristik teknik bahan dan konstruksinya. Sehingga diputuskan bahwa alat dibuat semi otomatis dengan mempertimbangkan juga harga jual alat yang cukup mahal. 
Pada intinya, kegiatan ini diharapkan mampu memunculkan kreativitas-kreativitas mahasiswa dan kerjasama kelompok yang baik. 
Sempat terpikirkan bahwa kami akan mengambil dana maksimum yang dicanangkan DIKTI, yaitu Rp 10 juta, namun setelah dipikir-pikir, masyarakat menengah kebawah tidak harus juga membeli alat-alat yang terlampau mahal nantinya pasca produksi. Akhirnya kami putuskan untuk mengajukan Rp 7 juta.
Oke, saatnya mulai memikirkan kedepannya agar bisa terealisasi. Meskipun nanti bonusnya jika lolos lagi akan masuk PIMNAS selanjutnya.
Keep Spirit !

Kamis, 12 Januari 2012

Jujur Aku Mencintainya Part 2


Hari ini adalah hari kelima dari kepergian teman-teman sekamarnya, bahkan mungkin sebagian besar teman-temannya saat itu. Dia begitu sadar bahwa hari-hari terakhir dari bulan ramadhan inii adalah hari yang diyakini oleh umat islam sebagai kemungkinan jatuhnya lailatul qodar. Ah apapun itu namanya, dia tak begitu perhatian dengan itu. Katika menjelang matahari terbit, lorongnya murni terlihat semakin gelap. Sumber cahaya matahari yang biasanya masuk dari lorong ujung timur sudah hilang tertutup tembok ujung lorong bagian barat. Lorong-lorong  yang biasanya menyimpan kegilaan anak-anak asrama tidak nampak lagi dimatanya. Lampu-lampu  dimatikan kecuali satu lampu saja yang dekat dengan kamarnya. Bisa saja dia menyalakan semua lampu-lampu itu, tapi untuk apa jika memang hanya dirinya yang ada disana. Kini asrama benar-benar terlihat angker. Sesekali dipandanginya sound system yang sudah tidak berfungsi disudut tangga turun ujung, pintu-pintu WC yang selalu terbuka, sampai pada sirkulasi perairan pipa asrama yang pintunya tidak pernah bisa tertutup. Perlahan pintu kamar itu dibukanya. Masuk dan langsung menuju jendela kaca kamarnya. Terlintas pandangan yang sedikit janggal dipelataran tengah-tengah asrama. Karena kamarnya berada dilantai dua, sosok itu nampak seperti orang yang sedang duduk, membungkuk tapi sama sekali tidak terlihat  jelas. Tidak ada lagi suara adzan dari mushola, tidak ada lagi gemuruh mahasiswa muslim yang membaca Al-Qur’an. Seketika pandangannya Ia arahkan ketempat lain.
“Bukan, itu bukan sesuatu yang selama ini aku takuti keberadaannya,” sahutnya sambil memegang erat kitab kumpulan do’a miliknya. Kitab itu bersampul hitam dan sudah terlilhat tua. Itu adalah satu-satunya hadiah yang masih bisa menyatukan kerinduannya pada Ayah dan Ibunya. Diberikan ketika pembaptisan pertama saat dia masih disekolah dasar. Diletakannya kitab itu pada sebuah meja belajar dan Ia tutup jendela rapat-rapat. Setelah selesai memanjatkan do’a, dia matikan lampu kamar kecuali satu lampu belajar saja yang Ia balik sembilan puluh derajat mengarah jendela. Dia tertidur lelap diantara iringan suara jangkrik dan desahan angin malam itu.



“Sreeettt”
Lampu kamar itu begitu terang, lima kali lebih terang dari biasanya. Dia pandang ke sekeliling ruangan itu yang Ia yakin bahwa itu bukan kamarnya lagi. Semuanya berbalut kain putih yang mengkilat. Dirinya melangkah dan terus melangkah mengikuti arah lorong itu seiring dengan perjalanan penyalaan lampu secara berurutan. Persis seperti lampu-lampu yang dikendalikan oleh IC pewaktu NE555 yang bersatu dengan IC LM7490 sebagai pembagi frekuensi. Rangkaian listriknya seperti berubah menjadi rangkaian astabil multivibrator. Menyala sesuai gerbang logika yang bernilai biner satu dan mati saat gerbang logika bernilai biner nol. Tidak ada saklar yang dikendalikan, semuanya begitu otomatis. Waktu penyalaannya juga teratur sesuai dengan langkahnya. “Gila, ini benar-benar gila,” pikirnya. Setelah berbelok sembilan puluh derajat kekanan, langkah Ia lanjutkan dan Ia tahu bahwa beberapa meter setelah itu adalah mushola asrama. Dirinya terhenti ketika berada tepat didepan jendela-jendela mushola yang menghembuskan angin begitu dingin. Terlihat bulan yang menyala penuh dilangit sana. Tak ada lagi desahan angin. Tak terdengar lagi suara jangkrik-jangkrik itu. Tiba-tiba kilatan cahaya terang muncul dari arah bulan itu dengan kecepatan maksimum. Bahkan jika melihat fakta, kecepatan cahaya itu melebihi kecepatan cahaya diruang hampa menurut teori sepanjang abad manusia. Dirinya semakin bergetar dan ketakutan. Cahaya itu masuk dan berada hanya dua meter didepannya. Perlahan cahaya itu berubah menjadi sesosok makhluk berjubah putih. Makhluk itu menampahkan tangan kanannya seraya berkata, “Wahai makhluk bumi yang sedang memiliki masalah, Tuhan Yesus tidak akan turun ke bumi untuk menolongmu,” ucapnya. Tak ada kesempatan untuk bertanya. Dalam sekejap makhluk itu langsung hilang dari pandangannya.


“Tuhan !!”
Teriakannya itu mengakhiri tidur lelapnya. Ini adalah mimpi aneh yang tidak hanya sekali dialaminya. Badannya penuh dengan keringat dan sesekali melihat kesekeliling kamarnya. Tidak ada yang berubah. Meski hatinya kini sedikit berubah.

Ada apa sebenarnya dengan mimpi-mimpi Jhon selama ini....
Tanda-tanda apa yang dia dapatkan....
Dia terus berfikir....
....sampai pada masalah-masalah lain yang menjadi tantangan hidupnya. namun satu hal yang kurang dia sadari, pertolongan Tuhan sebenarnya selalu datang.

TO BE CONTINUED INSYAALLAH

Jujur Aku Mencintainya Part 1


Bogor, sebuah tempat dimana dirinya merasa nyaman dan tentram. Entah ada apa dengan dia sebenarnya. Dia  merasa tak pernah punya tempat pulang. Mengakuinya pun serasa enggan. Disaat orang sibuk mencari tiket pesawat untuk pulang, dia hanya berkata, “Aku tak mau pulang”. Mungkin karena peristiwa itu. Peristiwa yang takkan pernah terlupakan sepanjang hidupnya. Sesosok orang tua yang seharusnya menjadi teladannya, justru malah menjadi sosok yang sangat dibencinya. Peristiwa pahit ini dirasakannya semenjak dia duduk di bangku kelas tiga SMA. Saat-saat yang perlu dukungan orang tua sepenuhnya. Memikirkan kelulusan Ujian Nasional yang semakin ribet, belum lagi memilih perguruan tinggi yang akan menjadi batu loncatan dalam mewujudkan cita-citanya. Dia anak yang cerdas sebenarnya. Tak sedikitpun bermasalah dalam hal akademik. Namun dibalik itu semua, hatinya panas, merana, dan akhirnya pasrah jika dirinya sedang penuh dengan Tuhannya.

Teringat saat-saat dia harus berjuang untuk mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Dirinya merasa berjuang sendiri meski sebenarnya selalu ada pihak sekolah yang menyokongnya. “mana orang tuamu ?” kata seorang guru BP kepadanya. Dengan berat dia berkata, “ Aku tak merasa punya orang tua Bu,” dengan kepedihan yang mendalam. Ibu Guru dengan penuh kerendahan hati meminta dia menjelaskan apa maksud perkataannya. Semakin lama bercerita, di hati kecilnya sebenarnya  ada deburan-deburan cinta yang teramat dalam kepada orang tuanya. Semua itu dapat terlihat dari raut mukanya yang tak bisa berbohong. Sebagai laki-laki, dia sedikitpun tak mau memerlihatkan kelemahannya dihadapan semua orang. Waktu itu, dia sekolah ditempat yang jauh dari orang tuanya. Orang tuanya tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan sedangakan dia sudah merantau ke Jakarta sejak memasuki dunia putih abu-abu. Paman satu-satunya adalah tempat yang bisa menjadi penopang hidupnya. Meskipun sebenarnya dia tak mau merepotkannya.
            “Jhon”
Panggilan akrab temannya itu membuyarkan pikiran sensitif-nya. Nama lengkapnya Jhona Vebryano. Dia seorang Khatolik yang taat. Dia tak begitu tau arti dari liburan Idul Fitri yang merasa lebih panjang daripada liburan-liburan hari raya agamanya. Tapi yang jelas sekarang dirinya bisa menikmati liburan meski terasa pedih.
            “Lu ga jadi pulang Jhon ?” lanjut teman sekamarnya.
            “Iya, Red,” singkatnya.
            “Kenapa, gak kangen Lo sama orang tua ?”
Kata-kata temannya Redy membuat hatinya semakin sakit. Dia coba untuk menjawab dengan tenang. Namun susah ternyata.
            “Gue gak punya duit buat pulang Red,” lanjutnya.
            “Yee, gara-gara duit Lo rela gak pulang, ni Gue pinjemin, mau gak ?”
            “Gak usah Red, makasih banyak”
            “terus disini mau ngapain, asrama sepi kayak gini, mau Lo jadi tumbal setan   penghuni asrama,” sambil menebar senyuman tengilnya.
Redy berasal dari Banten, perawakannya gemuk, sedikit pendek, dan bulat sehingga tak sedikit orang memanggilnya Doraemon.
            “Ya, mau menikmati indahnya Bogor aja”
            “Yaudah deh Gue cabut duluan ya, mohon maaf lahir bathin,” ucapnya sambil beranjak pergi.
            “Ya, sama-sama”
Tanpa dihitung dalam menit, Redy sudah menghilang dari pandangan. Mungkin pikirnya asrama begitu nyaman bagi dirinya. Dia tinggal di gedung asrama C2 kamar 192. Asrama yang disediakan Institut Pertanian Bogor untuknya. Dia menyadari begitu baik institusi ini padanya.
            Tanggal 24 Agustus 2011, hari yang ditunggu-tunggu bagi hampir semua mahasiswa IPB tentunya. Perkuliahan ditutup, kantor-kantor berhenti beraktivitas, dan para pekerja kampus pun bisa istirahat untuk beberapa hari kedepan tentunya. Hari demi hari dia lewati hanya dengan kehampaan. Bayangan wajah orang tuanya seakan menjadi hantu dalam kesehariannya. Doa yang selalu dibacakan setiap pagi dan malam seperti tak cukup mengobati hatinya. Dalam suatu hari, kerinduannya memuncak. Berulang kali tangannya disatukan dan mengepal erat. Berharap Tuhan menyampaikan rasa rindunya pada mereka. “Satu hal yang Ayah dan Ibu harus tahu, sebenarnya Aku sangat ingin mencintaimu,” sambil diiringi deraian air mata yang membasahi pipinya.

TO BE CONTINUED 

Cari Blog Ini