AHLAN WASAHLAN BIKHUDURIKUM
ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUHU

Menu horizontal

Kamis, 12 Januari 2012

Jujur Aku Mencintainya Part 2


Hari ini adalah hari kelima dari kepergian teman-teman sekamarnya, bahkan mungkin sebagian besar teman-temannya saat itu. Dia begitu sadar bahwa hari-hari terakhir dari bulan ramadhan inii adalah hari yang diyakini oleh umat islam sebagai kemungkinan jatuhnya lailatul qodar. Ah apapun itu namanya, dia tak begitu perhatian dengan itu. Katika menjelang matahari terbit, lorongnya murni terlihat semakin gelap. Sumber cahaya matahari yang biasanya masuk dari lorong ujung timur sudah hilang tertutup tembok ujung lorong bagian barat. Lorong-lorong  yang biasanya menyimpan kegilaan anak-anak asrama tidak nampak lagi dimatanya. Lampu-lampu  dimatikan kecuali satu lampu saja yang dekat dengan kamarnya. Bisa saja dia menyalakan semua lampu-lampu itu, tapi untuk apa jika memang hanya dirinya yang ada disana. Kini asrama benar-benar terlihat angker. Sesekali dipandanginya sound system yang sudah tidak berfungsi disudut tangga turun ujung, pintu-pintu WC yang selalu terbuka, sampai pada sirkulasi perairan pipa asrama yang pintunya tidak pernah bisa tertutup. Perlahan pintu kamar itu dibukanya. Masuk dan langsung menuju jendela kaca kamarnya. Terlintas pandangan yang sedikit janggal dipelataran tengah-tengah asrama. Karena kamarnya berada dilantai dua, sosok itu nampak seperti orang yang sedang duduk, membungkuk tapi sama sekali tidak terlihat  jelas. Tidak ada lagi suara adzan dari mushola, tidak ada lagi gemuruh mahasiswa muslim yang membaca Al-Qur’an. Seketika pandangannya Ia arahkan ketempat lain.
“Bukan, itu bukan sesuatu yang selama ini aku takuti keberadaannya,” sahutnya sambil memegang erat kitab kumpulan do’a miliknya. Kitab itu bersampul hitam dan sudah terlilhat tua. Itu adalah satu-satunya hadiah yang masih bisa menyatukan kerinduannya pada Ayah dan Ibunya. Diberikan ketika pembaptisan pertama saat dia masih disekolah dasar. Diletakannya kitab itu pada sebuah meja belajar dan Ia tutup jendela rapat-rapat. Setelah selesai memanjatkan do’a, dia matikan lampu kamar kecuali satu lampu belajar saja yang Ia balik sembilan puluh derajat mengarah jendela. Dia tertidur lelap diantara iringan suara jangkrik dan desahan angin malam itu.



“Sreeettt”
Lampu kamar itu begitu terang, lima kali lebih terang dari biasanya. Dia pandang ke sekeliling ruangan itu yang Ia yakin bahwa itu bukan kamarnya lagi. Semuanya berbalut kain putih yang mengkilat. Dirinya melangkah dan terus melangkah mengikuti arah lorong itu seiring dengan perjalanan penyalaan lampu secara berurutan. Persis seperti lampu-lampu yang dikendalikan oleh IC pewaktu NE555 yang bersatu dengan IC LM7490 sebagai pembagi frekuensi. Rangkaian listriknya seperti berubah menjadi rangkaian astabil multivibrator. Menyala sesuai gerbang logika yang bernilai biner satu dan mati saat gerbang logika bernilai biner nol. Tidak ada saklar yang dikendalikan, semuanya begitu otomatis. Waktu penyalaannya juga teratur sesuai dengan langkahnya. “Gila, ini benar-benar gila,” pikirnya. Setelah berbelok sembilan puluh derajat kekanan, langkah Ia lanjutkan dan Ia tahu bahwa beberapa meter setelah itu adalah mushola asrama. Dirinya terhenti ketika berada tepat didepan jendela-jendela mushola yang menghembuskan angin begitu dingin. Terlihat bulan yang menyala penuh dilangit sana. Tak ada lagi desahan angin. Tak terdengar lagi suara jangkrik-jangkrik itu. Tiba-tiba kilatan cahaya terang muncul dari arah bulan itu dengan kecepatan maksimum. Bahkan jika melihat fakta, kecepatan cahaya itu melebihi kecepatan cahaya diruang hampa menurut teori sepanjang abad manusia. Dirinya semakin bergetar dan ketakutan. Cahaya itu masuk dan berada hanya dua meter didepannya. Perlahan cahaya itu berubah menjadi sesosok makhluk berjubah putih. Makhluk itu menampahkan tangan kanannya seraya berkata, “Wahai makhluk bumi yang sedang memiliki masalah, Tuhan Yesus tidak akan turun ke bumi untuk menolongmu,” ucapnya. Tak ada kesempatan untuk bertanya. Dalam sekejap makhluk itu langsung hilang dari pandangannya.


“Tuhan !!”
Teriakannya itu mengakhiri tidur lelapnya. Ini adalah mimpi aneh yang tidak hanya sekali dialaminya. Badannya penuh dengan keringat dan sesekali melihat kesekeliling kamarnya. Tidak ada yang berubah. Meski hatinya kini sedikit berubah.

Ada apa sebenarnya dengan mimpi-mimpi Jhon selama ini....
Tanda-tanda apa yang dia dapatkan....
Dia terus berfikir....
....sampai pada masalah-masalah lain yang menjadi tantangan hidupnya. namun satu hal yang kurang dia sadari, pertolongan Tuhan sebenarnya selalu datang.

TO BE CONTINUED INSYAALLAH

Cari Blog Ini