AHLAN WASAHLAN BIKHUDURIKUM
ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUHU

Menu horizontal

Rabu, 21 Desember 2011

Kembalikan Semangat PERS KAMPUS Di Indonesia

          Berdasarkan surat undangan yang dilayangkan Direktorat Kemahasiswaan Subdit Minat dan Bakat Universitas Indonesia berserta panitia penyelenggara workshop pers kampus 2011, IPB secara resmi memberi kesan positif untuk mem- berangkatkan perwakilannya. Kegiatan ini merupakan ajang yang ditujukan bagi aktivis-aktivis pers kampus agar memiliki kemampuan yang lebih dalam memahami dunia media massa secara umum. IPB Youth Journalist sebagai salah satu kelompok yang bergerak dalam pers kampus telah memberangkatkan lima orang perwakilannya, yaitu Asep Andi, Anisa Tridiyani, Dini Ayu Lestari, Dwi Muchayani, dan Fatimah Zachra Fauziah dalam acara tersebut. Selain dari UI sebagai tuan rumah, acara tersebut juga dihadiri oleh perwakilan mahasiswa pers kampus dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), Universitas Taruma Negara (UNTAR), London Scshool of Public Relations (LSPR), dan lain-lain. Workshop pers kampus ini dilaksanakan di Gedung Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.
               Perwakilan IPB menjadi peserta pertama yang melakukan registrasi dimeja yang telah disediakan panitia. Setelah menunggu sekitar setengah jam, acara dibuka oleh MC yang kemudian diawali dengan sambutan oleh ketua pelaksana dari pihak Kasubdit Minat dan Bakat Direktorat Kemahasiswaan Universitas Indonesia, Drs. AG. Sudibyo, M.Si. Dalam pidatonya, beliau mengajak peserta untuk mengingat sejenak tentang perkembangan Pers di Indonesia. Dalam perkembangannya, Pers dimulai dengan adanya surat ijin penerbitan pers dari pemerintah sampai pencabutan ijin tersebut sehingga terjadi kebebasan pers di Indonesia. Dalam sistem pers terdapat empat macam yang dianut dunia, yaitu:  otoritarian, komunism, liberalism, dan sosial responsibility. Menurut beliau, Pers di negara kita secara perlahan telah masuk pada kategori pers liberalism.  Pers kampus saat itu menjadi terpengaruhi dan kemudian berubah menjadi tantangan.  Sampai pada akhirnya terjadi pembredelan pada koran kampus yang ada saat itu. Beliau juga menyampaikan terima kasih kepada para peserta yang telah hadir dan menyatakan bahwa jumlah bukanlah faktor penghalang bagi kita untuk  terus mengembangkan kemampuan kita dalam dunia pers kampus.
               Workshop sesi pertama dimulai pada pukul 09.30 sampai 10.30. pada sesi ini, tema yang diangkat adalah Manajemen Redaksi TV. Pembicara yang handal dibidangnya dan memiliki pengalaman yang sangat banyak dalam dunia media membuat kami semakin bersemangat. Bapak Toto Suryanto ini merupakan mantan aktivis mahasiswa pers kampus Universitas Brawijaya, mantan Senior Manajer SCTV, Koordinator Liputan (Koorlip) TVOne, dan segudang pengalaman lainnya. Dalam presentasinya, beliau mengawali sejarahnya yang menyatakan langkah-langkahnya saat SCTV hendak didirikan untuk menyaingi RCTI saat itu. Bukanlah hal yang mudah ketika pertama mendirikan suatu media, namun yang membuat kami terus bertahan hanyalah satu, yaitu semangat. Menurut pengakuan beliau, jantung dari media adalah liputan. Saat itulah SCTV berhasil meliput tragedi kerusuhan yang melibatkan pihak mahasiswa dan aparat sehingga rating SCTV meningkat drastis. Berkembang dan terus berkembang sampai menjadi media massa yang dipandang paling netral di Indonesia selain TVRI. Mengapa demikian ? hal ini karena media-media lain disadari atau tidak memiliki unsur-unsur politik yang dibelakangnya ada pihak yang diuntungkan atau dilindungi. Misalnya, TVOne tidak pernah menyebutkan kata “lumpur lapindo” dalam liputannya melainkan menyebutnya “lumpur sidoardjo” karena ada pihak dibelakang yang dilindunginya, yaitu Bakrie. Kembali pada permasalahan mahasiswa, hal yang membuat mahasiswa lemah dalam dunia pers adalah kemalasan. Sehingga kunci yang menjadi dasar dalam mengelola media kampus adalah semangat. Sambil tertawa beliau memaparkan bahwa penyakit yang sering menimpa wartawan hanyalah dua, yaitu sombong dan sakit maag. Bukan hal yang dipungkiri ketika seorang wartawan memaparkan kebanggaannya tentang keberhasilan suatu liputan sampai akhirnya lupa diri dan dibelakangnya ada media lain yang bersiap menghadang. Para jurnalis hendaklah merasa bangga karena bisa menjadi saksi sejarah bahkan menjadi pelaku sejarah. Semua media massa sama, namun yang membedakan adalah efektivitas penyampaiannya kepada khalayak umum. Dalam ruang redaksi terdapat beberapa hal yang perlu diketahui, yaitu : news room, system, tim gathering (reporter, cameraman, driver), tim koki , broadcase people, dan studio crew. Tim gathering yang memiliki tugas yang cukup berat tapi dibayar paling murah adalah driver. Tim koki bukan pada makanan saja melainkan tim penyaji berita yang sigap dalam mengatur penampilan berita dengan menggunakan software yang bisa bekerja cepat untuk disalurkan ke pihak newsroom. Seorang jurnalis harus bisa menjaga hubungan baik dengan pihak-pihak yang terlibat dalam hal menjebatani penyampaian informasi tentang suatu kasus tertentu. Dalam hal lain, rapat redaksi harus selalu ada. Adapun hal-hal yang menjadi bagian dalam rapat redaksi adalah lembaga tertinggi (pemimpin redaksi sejati), policy dan rundown siaran, narasumber dan topik utama, delivery dan evaluasi, dan rating-share-image. Presentasi beliau diakhiri dengan pemaparan kasus-kasus terkini dan pengalaman-pengalaman pahit manisnya menjadi seorang koorlip sekaligus wartawan.
              Presentasi  kedua dibawakan oleh Prof. Sasa Djuarsa Sendjaya, Ph.D. Beliau merupakan mantan ketua KPI Pusat sekaligus menjadi dosen Komunikasi di FISIP UI sampai sekarang. Bahasan yang dibawakan beliau dengan gaya khas seorang dosen senior adalah tentang Regulasi Penyiaran di Indonesia Antara Idealisme dan Realita Bisnis. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa di Indonesia masih menggunakan sistem pemakaian frekuensi dari masing-masing media yang tentu tergantung biaya yang dikeluarkan masing-masing perusahaannya. Sehingga perlu adanya regulasi pemakaian frekuensi baik untuk radio, televisi, selular, dan lain-lain. Di luar negeri, pengaturan jaringan dipusatkan pada satu menara yang dibangun pada suatu tempat tertentu. Berbeda dengan di negara kita yang hampir semua media memiliki menaranya masing-masing. Jika negara lain bisa mengapa kita tidak. Rencananya negara kita juga akan diadakan pemusatan seperti itu untuk wilayah jakarta dengan membangun sebuah menara komunikasi terpusat didaerah kemayoran pada tahun 2014 mendatang. Respon masyarakat terhadap media adalah pencerminan dari masyarakatnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, aksi protes massa terhadap media diduduki tertinggi mencapai 28 persen adalah terhadap sinetron/film. Sedangkan protes masyarakat terhadap infotainment hanya menduduki 1,6 persen. Selainnya diajukan terhadap berita, reality show, dll. Dalam kaitannya dengan bisnis, berbagai media juga memiliki partner atau relation dengan pihak perusahaan tertentu sehingga bisa menguntungkan pihak tertentu pula. Di Amerika, suatu media dinyatakan monopoli jika menduduki 35 persen dari keseluruhan penonton masyarakatnya. Di Amerika juga ada tiga hal yang tidak boleh disiarkan melalui media, yaitu pengadilan perceraian, pengadilan seksualitas, dan pengadilan anak. Menurut beliau, berbagai perundang-undangan dalam dunia pers sudah ada tapi belum sepenuhnya para pelaku pers memahaminya sehingga terjadi pelanggaran-pelanggaran. Misalnya pelanggaran yang terjadi pada acara “Empat Mata” dari Trans7 yang dipandu oleh Tukul Arwana. Setelah pelanggaran itu, pihak perusahaan mengganti program tersebut menjadi “Bukan Empat Mata”. Hal ini karena adanya tuntutan tidak boleh beredar lagi dengan nama yang sama dan konten yang sama meskipun ada perbaikan. Meskipun demikian tidak semua orang menyadari hal itu. Tukul Arwana menjadi artis yang mendapatkan bayaran paling besar pada acara tersebut, yaitu sebesar 27 juta per episode. Dalam satu bulan bisa mencapai 12 episode sehingga jika dikalkulasikan penghasilannya bisa melebihi tiga kali lipat gaji presiden. Menurut pengamatan beliau, TV Publik yang sudah mendapat ijin dari pemerintah berjumlah 22 dan dalam permohonan berjumlah 13, TV Swasta yang telah mendapatkan ijin berjumlah 278 dan dalam proses permohonan berjumlah 302, TV berlangganan yang sudah mendapat ijin berjumlah 113 dan yang dalam proses permohonan berjumlah 51, TV komunitas yang sudah mendapatkan ijin berjumlah 7 dan yang dalam proses permohonan berjumlah 19. Jumlah total televisi di Indonesia yang sudah mendapat ijin berjumlah 420 dan yang dalam proses permohonan berjumlah 385 sehingga total televisi di Indonesia jika mendapat ijin dari pemerintah berjumlah 805 stasiun televisi. Hal serupa juga terjadi pada stasiun radio di Indonesia yang mencapai 3.296 stasiun. Sehingga perlu diadakannya teknologi komunkasi yang berbasis digital dan konvergensi. Perencanaan dari Ditjen Postel – Kemenkominfo, tahun 2015 untuk kota-kota besar sudah tidak ada lagi TV analog melainkan sudah berpindah pada TV digital. Pada tahun 2020, seluruh TV analog di Band III VHF dan Band IV UHF CH 22 – 54 menjadi full digital broadcast. Dalam masalah lembaga sensor film juga berbeda dengan negara-negara lain. Negara lain ada yang menyerahkan sensor filmnya pada perusahaan masing-masing seperti Amerika dan ada juga yang benar-benar ketat seperti di Malaysia dan Singapura. Presentasi selesai setelah proses tanya jawab.
              Selanjutnya peserta dipersilahkan untuk mengambil makan siang dan shalat dzuhur bagi yang menjalankan. Sekitar setengah jam lebih kami beristirahat dan dilanjutkan lagi pada pukul 13.00. Materi selanjutnya dipaparkan oleh Prof. Masmiar Mangiang yang merupakan salah satu dosen di FISIP UI. Materi yang dibawakan tentang Teknik Dasar Menulis. Menurut beliau, mahasiswa wajib harus bisa menulis. Jika setelah lulus belum bisa menulis maka ijazahnya perlu dikembalikan dan mengulangnya lagi. Banyak mahasiswa beranggapan bahwa menulis itu harus ada bakat, padahal itu tidak sepenuhnya benar. Menulis adalah proses mengemukakan fakta, perasaan, dan gagasan. Dalam menulis, penguasaan bahasa tulis harus diperhatikan terutama masalah diksi. Hal ini karena pembaca memabaca dengan tanpa bantuan apapun melainkan menggunakan cara sendiri yang tentu berbeda dengan lisan yang memiliki intonasi. Jika salah memilih kata, maka akan menampilkan penafsiran yang berbeda. Hasil dari menulis adalah naskah. Banyak kata-kata yang memiliki pemaknaan salah dalam tulisan-tulilsan resmi apalagi yang tidak resmi. Misalnya dalam tulisan sejarah, itu menjadi kata yang keramat sehingga sulit untuk diubah. Misalnya kata “mencerdasakn kehidupan bangsa”, bukan kehidupannya yang dicerdaskan melainkan penduduknya. Atau dalam kata “Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tingkatan dalam keesaan Tuhan, dan lain-lain.
Apa saja yang ditulis ? Pertama, naskah-naskah yang bersifat faktual misalnya surat, pengumuman, berita surat kabar, opini di koran, laporan penelitian, dan progress report. Kedua, naskah-naskah yang bersifat opini misalnya novel, dongeng, dan lain-lain.
Beberapa istilah yang tidak bisa dihindarkan dari faktual adalah :
  1. Realitas, sesuatu yang diyakini kebenarannya tapi tidak pernah dibuktikan
    kebenarannya.
  2. Fakta, sesuatu yang diyakini kebenarannya namun telah dibuktikan
    kebenarannya.
  3. Data, hasil pengujian yang spesifik.
  4. Opini, pendapat yang muncul dari penulis berdsarkan fakta yang diketahui.
Topik dan tema adalah dua kata yang tidak berada pada tingkatan hierarki yang sama. Topik adalah  lingkup persoalan sedangkan tema  adalah apa yang kita katakan tentang suatu topik. Disarankan memilih topik yang sifatnya sempit pada naskah yang pendek, pilihlah topik yang teraktual, pilihlah topik yang anda kuasai atau anda fahami dengan baik, dan jangan pilih topik yang kurang anda kuasai atau sedang dipelajari. Ada dua jenis naskah berdasarkan isi dan tujuan penulisan, yaitu ras pertama berisi fakta yang bertujuan menginformasikan kepada publik dan ras kedua adalah fiture yang berguna untuk menjelaskan tapi tidak komprehensif. Fiture hanya mengabarkan berita. Adapun kesalahan dalam jurnalisme ada dua, yaitu menyiarkan berita yang salah dan melanggar hukum. Pada tahap-tahap penulisan, setelah adanya topik, disarankan untuk mengumpulkan bahan sebanyak-banyaknya dengan cara membaca, melihat dokumen-dokumen, dan lain-lain. Fakta bisa kita dapatkan dengan interview pada orang yang berkompeten. Orang yang berkompeten itu adalah berdasarkan kedudukannya yang benar sesuai topik bahasan. Setidak-tidaknya narasumber ini menyaksikan sesuatu. Yang perlu diperhatikan dalam wawancara, tentukan narasumber yang benar-benar berkompeten dalam bidangnya. Faktor penentu tinggi-rendahnya nilai berita di mata publik adalah akibat, proximity, prominence, konflik, dan kebaruan. Syarat pokoknya adalah bersifat melaporkan fakta, bukalah laporan dengan mengambil perhatian orang, ditulis dengan struktur piramida terbalik (hanya untuk berita), berita harus seimbang, berita tidak banyak kata2 yang tidak penting, lengkap menjawab 5W + 1H (yang relepan saja), fair  (jujur tidak berprasangka), akurat, kode etik terpenuhi, menjauhi pelanggaran hukum, dan mempertimbangkan aspek pendidikan publik. Sebagai contoh, di Amerika sudah dikatakan bahwa tidak ada berita yang objektif melainkan media hanya berlaku fair atau jujur dan tidak membohongkan fakta. Presentasi beliau diakhiri dan penyambutan pada presenter selanjutnya yang merupakan kerabat dekatnya.
Sejujurnya pikiran sudah mulai tidak fokus karena tidak ada hiburan sedikitpun dari pihak panitia. Ditambah lagi sikap para pembicara yang seperti memberikan kuliah pada mahasiswanya. Beda dengan acara-acara di IPB yang selalu menyertakan hiburan dan mendatangkan pembicara yang muda-muda.
              Presentasi terakhir disampaikan oleh Prof. Zulhasri Nasir, seorang penulis buku dan salah satu dosen di FISIP UI. Tema yang dibawakan adalah tentang menulis tajuk rencana atau editorial. Tajuk rencana adalah suatu tulisan opini yang ditulis oleh orang dalam redaksi tentang berbagai masalah yang mencerminkan sikap, pandangan, dan politik suatu media pada masalah yang dibahas. Tajuk rencana juga berfungsi sebagai ruang atau kesempatan bagi redaksi untuk memberikan pendapat. Menurut beliau, tempatkan diri kita sejajar dengan publik (pembaca, pendengar atau pirsawan) sehingga dengan demikian kita akan bersikap demokratik, terbuka, dan menghindari diri dari sifat menggurui. Ketika menulis anggap kita sedang berdialog dengan audiens. Menulislah dengan sikap rasional, mengutamakan logika, nalar, dan tidak membakar atau memperluas konflik tetapi meredam atau mendinginkan. Dalam hal struktur tulisan, perlu adanya benang merah atau sudut pandang. Selain itu juga perlu ada tiga komponen berikut, yaitu introduction (intro), isi, dan kesimpulan. Pemaparan tulisan dapat berupa numbering, blocking, theming, dan structuring.
             Kondisi sudah mulai terlihat tidak kondusif dan dari situlah acara secara resmi ditutup oleh MC pada pukul 16.00. Setelah itu peserta dipersilahkan mengambil sertifikat di meja registrasi dan pembagian konsumsi penutup dari pihak panitia. Kami melaksanakan shalat ashar dan tidak melewatkan moment untuk sekedar mencari udara segar dan berfoto-foto disamping danau sekaligus manyaksikan kemegahan perpustakaan baru UI dan Rektorat UI yang terlihat menarik dan indah. Disepanjang perjalanan pulang ke stasiun juga kami melihat banyak pelajaran dari dalam kampus UI. Biarlah itu pelajaran positif maupun negatif yang kami sadari cukup berbeda dengan kampus kita. Kami pulang dengan kepenatan yang luar biasa di dalam kereta. Kepenatan bukan semata-mata karena mengendarai sarana umum tapi mungkin karena kelelahan mengikuti workshop yang tidak ada hiburannya sedikitpun. Kami sampai di kampus kembali pada pukul 20.00 dan membubarkan diri ketempat masing-masing.

Cari Blog Ini